Nakba. Artinya prahara dan bencana. Bagi kaum Muslimin, bulan Mei tahun ini adalah momentum yang mengingatkan mereka pada prahara besar. Prahara yang disebut sebagai awal bencana besar dari rangkaian bencana yang menimpa kaum Muslimin Enam puluh tahun lalu, yakni di tahun 1948, sebuah prahara dan bencana besar telah terjadi, dan dampaknya terus menerus terjadi hingga hari ini. Prahara itu, terjadi di bumi Islam Palestina di mana pada bulan Mei 1948, di mana kurang lebih satu juta warga Muslim Palestina, diusir secara terhina dari kampung halaman mereka. Yang tersisa hanya sekitar 150 ribu orang saja. Hari itu, Israel meluluh lantakkan lebih dari 500 desa dan kampung di Palestina yang menyebabkan lebih satu juta warga Palestina menjadi pengungsi. Tak lama setelah itu, di atas puing dan air mata Palestina , Israel mendeklarasikan negaranya. Hari itu sekaligus menjadi pertanda tentara Inggris keluar dari Palestina, dengan meninggalkan penerusnya, Zionis Israel . Kini, rakyat Palestina yang mengungsi telah memiliki keturunan yang banyak hingga mencapai sekitar 5 juta orang. Cara itulah yang sudah digariskan oleh Ben Goreon, salah satu pendiri Zionis Israel , “Hancurkan Palestina, itu adalah syarat bagi berdirinya Israel .”
Peristiwa Nakba, kemudian bergulir menjadi peristiwa yang membuat air mata dunia Islam menangis dan merintih. Sebagian umat Islam mengadakan peringatan peristiwa itu dengan menggalang aksi dan berbagai kegiatan demonstrasi. Ada juga yang melakukan berbagai kegiatan semacam konferensi, muktamar, atau penggalangan tekad kebangkitan untuk melawan penindasan dan kembali ke kampung halaman. Enam puluh tahun Nakba, mengingatkan kembali kaum Muslimin atas kejahatan Zionis Israel yang melakukan ragam kezaliman tak terperi, bukan hanya pada dunia Islam tapi juga pada kemanusiaan secara umum. Seorang penulis Palestina, Dr. Ibrahim Hammami, menuliskan 60 Nakba dalam memperingati 60 tahun Nakba. Baginya, Nakba tidak hanya terjadi pada tahun 1948, tapi terus menerus terjadi setiap perguliran tahun. Ia menyebutkan, “Kita diusir dari tanah air kita adalah nakba. Tentara Arab gagal menyelamatkan umat Islam dari Israel adalah nakba. Gencatan senjata sepihak yang disepakati adalah nakba. Kekalahan tahun 1967 dan hilangnya sebagian wilayah Palestina adalah Nakba. Kesepakatan Camp David adalah nakba. Pembunuhan kaum Muslimin di Palestina yang terus menerus berlangsung adalah nakba. Perundingan Oslo adalah Nakba…..” dan seterusnya. Peristiwa utama Nakba, secara khusus adalah, berubahnya status lebih dari dua juta orang kaum Muslimin di Palestina menjadi pengugnsi di berbagai negara tetangga, hingga hari ini.
Mereka Takkan Lupa Kampung Halamannya
Seorang kakek yang sudah renta, berdiri sambil memegang tongkat. Ia melihat ke arah peta yang dihamparkan di hadapannya. Ia ingin menjelaskan isi peta itu. Seorang anak, menolongnya sambil mengatakan, “Biar aku bantu engkau menjelaskannya kek. Apakah yang kakek maksud letaknya di sini?” Tangan anak itu menununjuk ke arah sebuah kota di peta, tapi sang kakek menggelengkan kepalanya.
Mata anak itu kemudian sibuk ke arah yang lain di dalam peta, mencari sesuatu yang dicarinya. Sang kakek menenangkannya, “… pasti ada kota itu, percayalah. Dia ada di suatu tempat… “ Tak lama kemudian, mata sang anak berbinar dan mengatakan, “… Ya, aku dapat, aku dapat.. “ Ia lalu menunjukkan satu titik di dalam peta yang bertuliskan “Pasen.” Sang kakek turut gembira dan mulai menceritakan kisah tentang peristiwa Nakba dan bagaimana kedukaannya terusir dari kampung halamannya. Ia jelaskan bagaimana desa Pasen dahulu adalah desa yang indah, karena memiliki sejumlah taman dan kebun hijau. “….Kelak kita harus bisa kembali ke sana nak…” ujar sang kakek.
Itu adalah penggalan kisah yang mencerminkan bagaimana penduduk Palestina yang terusir tetap menanamkan keyakinan kepada anak keturunannya, tentang tanah kampung halaman mereka. Penggalan kisah ini menjadi penting, karena sekitar tiga puluh tahun sebelum ini, Perdana Menteri Israel Golda Maeir, pernah berbicara di hadapan orang-orang Zionis Israel , soal cara paling efektif menghilangkan orang-orang Palestina. “Bunuh orang-orang tua mereka, setelah itu generasi mereka yang masih kecil akan lupa pada mereka.” Dan kini setelah banyak orang-orang tua yang sudah meninggal karena kekejaman Zionis Israel . Apakah generasi setelah mereka lupa? Kisah di atas menjadi jawabannya.
Anwar Barawi, dosen fakultas pendidikan di Universitas Islam di Ghaza mengatakan, “Generasi Palestina takkan bisa dilupakan dari peristiwa Nakba. Mereka akan tetap mengingat kuat peristiwa itu sesuai dengan kisah yang mereka dapatkan secara turun temurun dari para orang tua tentang Nakba. Jiwa mereka akan tetap berdegup karena kerinduan untuk kembali ke kampung halaman. Mereka akan bicara bangga tentang tanah kelahiran mereka, tentang kampung halaman mereka, seperti mereka pernah hidup di sana .” Menurut Barawi, orang-orang Israel memang dahulu ingin agar bila para orang tua Palestina meninggal, maka anak-anak kecil mereka akan melupakan peristiwa Nakba. “Ini tidak akan terjadi. Cinta kampung halaman telah terwariskan dengan baik dari generasi ke generasi. Dan anak-anak akan menjadi saksi atas luka dan derita dari pengusiran keluarga mereka,” ujar Barawi.
Memang itulah yang terjadi. Keluarga Muslim Palestina telah menjadikan kisah tentang peristiwa Nakba sebagai kisah wajib bagi keluarga mereka. Seorang nenek, ada yang menyimpan kertas-kertas lusuh karena termakan usia puluhan tahun, untuk mengingatkan anak-anak tentang kampung halaman yang harus direbut kembali dari tangan Zionis Israel. Seperti yang dilakukan oleh seorang nenek kepada cucunya bernama Shamud (15). Sang cucu kini bisa berkata dengan penuh keyakinan, “Cita-cita untuk kembali ke kampung halaman akan tetap ada dalam benak pikiran generasi Palestina selanjutnya. Orang-orang tua kami sebelumnya telah menyampaikan dengan penuh kerinduan, sekaligus takut bila kami melupakan kampung halaman kami dan tanah air kami. Tapi itu tidak akan pernah terjadi. Benar, kami tidak pernah melihatnya sekalipun. Tapi kondisi kampung halaman itu begitu melekat dalam jiwa sampai jasad kami, sampai kami merasakan bisa menghirup napas di tempat itu.”
Berbeda dengan Khalid yang kini berusia 10 tahun. Ia menceritakan, kakeknya menitipkan segumpal tanah yang disimpan dalam sebuah kotak, untuk dirinya. Ia mengatakan, sang kakek memberikan kotak berisi gumpalan tanah itu dengan mengatakan, “Ini adalah tanah dari kampung halamanmu, jangan sampai engkau lupa dengan tanah airmu. Jika aku mati dan aku belum bisa kembali ke sana , engkaulah yang harus kembali ke sana .” Khalid kemudian bisa menceritakan peristiwa Nakba yang sesungguhnya tidak dialaminya. Tapi tampak dari uraiannya, peristiwa itu begitu melekat kuat dalam alam pikirannya. Ia mengatakan, “Aku bisa bercerita dengan bangga untuk kembali ke kampung halaman kami yang terampas. Kami bisa menggambar kampung halaman kami. Kami bernyanyi tentang kampung halaman kami….”
Pengungsian Paling Lama Sepanjang Sejarah
Ya, setelah kini 60 tahun berlalu dari peristiwa Nakba. Generasi ketiga Muslim Palestina masih menyimpan baik ingatan dan kerinduan mereka tentang kampung halamannya. Ingatan yang sudah menyatu dengan darah daging mereka. Di keluarga yang lain, seorang kakek bernama Ibrahim Sharab, biasa mengumpulkan empat orang cucunya untuk bercerita dan menanamkan pemahaman tentang peristiwa Nakba sekaligus tekad untuk kembali ke kampung halaman. Ia bercerita tentang keindahan desa yang kini diduduki oleh Zionis Israel . “Pohon-pohon di Yafa, sangat indah dan menyejukkan mata yang memandangnya…” ujar Sharab untuk membangkitkan kerinduan cucu-cucunya kepada Yafa. Sampai seorang anak yang bernama Haifa Yasin (8) bisa menyebutkan hampir detail kondisi tanah kelahiran kakeknya secara geografis dan hal apa saja yang istimewa di sana . “Nenek memberikan nama untukku dengan Haifa adalah karena nenek sangat cinta pada Haifa . Dia yang mewasiatkan kepadaku, agar aku tetap mengingat kampung halaman kami yang pertama, dan bagaimana kondisi rumah kami waktu itu,” ujar Haifa .
Di antara keluarga Muslim Palestina ada juga yang memiliki cara unik lain untuk menanamkan kenangan dan kerinduan generasi setelahnya, kembali ke tanah yang dirampas Israel . Seperti yang disampaikan seorang anak bernama Aed, usia sepuluh tahun. Ia mengatakan, dirinya mendapat titipan yang harus dijaga dari kakeknya. Dan titipan itu akan diberikan kelak ke anak keturunannya, selama mimpi kembali ke kampung halaman belum tercapai. Titipan itu adalah sebuah kunci. Ya, kunci rumah kakek nenek mereka dahulu di Yafa. Rumah mereka sudah pasti tidak ada lagi saat ini. Tapi kunci itu menjadi saksi sejarah sekaligus benda yang mengikat kuat hubungan generasi penerus yang terusir dari Palestina. Bahwa, suatu saat mereka harus bisa kembali ke kampung halaman.
Menurut data UNRWA, jumlah para pengungsi yang kini populasinya sudah lebih dari 5 juta orang, awalnya adalah sekitar 1,5 juta orang yang terusir dari Palestina. Sebanyak 640an ribu orang tersebar di 19 lokalisasi tenda pengusian di Tepi Barat, dan 820 ribu pengungsi lainnya tersebar di delapan pengungsian di Ghaza dan sekitarnya. Jumlah pengungsi akibat Nakba tahun 1948 itu ditambah lagi dengan pengusiran yang dilakukan Israel di tahun 1967, di mana sekitar 350 ribu orang Muslim Palestina dipaksa meninggalkan kampung halaman mereka dan berubah menjadi pengungsi selama lebih dari separuh abad. Inilah pengungsian yang paling lama sepanjang sejarah. (M. Lili Nur Aulia)
knrp.or.id
Laknatullah ISRAEL n SEKUTUNYA
Percaya lah Allah maha besar,suatu hari nanti kota Nakba yang telah di rebut israel pasti akan kembali ke yang berhak ya itu Rakyat Palestina Saudara kita…Amien.